
Rabu, 23 November 2011. Hari itu tercatat sebagai yaum istimewa di asal gagasan APOEL Nicosia. Nama perkumpulan ini mudah mudahan asing, apalagi terbagi penggemar melampung bola. Kini, tak harus bertanya, dapat apa perkumpulan negeri antah-berantah itu? APOEL (baca: ah-poh-EL) menunjukkan orisinal personel sebagai 1 bermula 16 perkumpulan terkuat Eropa tahun ini setelah terhindar ke 16 awan Liga Champions. ”Ini dapat sempurna contoh tim-tim negeri mungil maupun beda negeri melampung bola,” sebutan Ivan Jovanovic, Pelatih APOEL.
Rabu malam itu, metropolis St Petersburg, Rusia, berselimut suhu yang mendekati titik beku. Bagi segenap pemain APOEL, hawa ekstrem itu telah menjadi masalah tersendiri selain harus berasal di mungil tekanan suporter Zenit St Petersburg di Stadion Petrovski di pergelutan penyisihan Grup G Liga Champions.
Hasilnya mengejutkan. Selama 90 menit plus 10 menit lama tambahan, pemain APOEL menahan Zenit 0-0. Hasil imbang itu meloloskan APOEL ke disitribusi 16 besar, berada di hadapan cap pemenang Eropa Porto (Portugal), cap pemenang Piala UEFA maupun Liga Europa, Zenit St Petersburg (Rusia) dan Shakhtar Donetsk (Ukraina).
Pencapaian itu asal gagasan terbagi melampung bungkus Siprus, negeri asal APOEL. Klub metropolis Nicosia—ibu metropolis Siprus—itu merupakan perkumpulan Siprus akar akar yang dapat melaju ke disitribusi mangkat (knock out) Liga Champions. Lebih mencengangkan lagi, mereka belum terkalahkan bermula 5 pergelutan melawan klub-klub perkasa pesaing di penyisihan Grup G.
Tim asuhan Ivan Jovanovic itu telah menyikat Zenit dan Porto, masing-masing dengan bilangan 2-1, dan bermain imbang 1-1 detak bertandang ke Porto dan Shakhtar Donetsk. APOEL dapat terhindar ke 16 awan sebagai pemenang blok andaikan dapat mengalahkan Shakhtar di Nicosia, 6 Desember mendatang.
”Kami telah menorehkan sesuatu yang 3 bulan lalu, bermimpi pun tidak,” sebutan Jovanovic. Tiga bulan lalu, detak disitribusi genting Liga Champions dimulai, APOEL dipandang sebagai bahan pakar kunci grup, laksana yang dialami Otelul Galati (Grup C), Dinamo Zagreb (Grup D), KRC Genk (Grup E), dan BATE Borisov (Grup H).
Lolosnya APOEL merupakan lalai 1 bingkisan kejutan di Liga Champions durasi ini. Dengan serangkaian kejutan yang kemudian mereka torehkan, berlimpah anak adam menjuluki APOEL sebagai ”Cinderella” perlombaan antarklub Eropa sangat bergengsi tahun ini.
Efisiensi dan motivasi
Sukses menahan junjungan kediaman Zenit 0-0, menurut luntang lantung APOEL Gustavo Manduca, merupakan sebuah keajaiban. ”Ini meninta berjaya penghidupan saya. Saya tak telah membayangkan berhasil ini detak dulu berasal di Siprus,” sebutan Manduca, luntang lantung asal Brasil, laksana dikutip lokasi resmi UEFA.
Pertanyaannya, apa resep dan rahasia berhasil APOEL? Di lapangan, andaikan melihat penampilan terakhir melawan Zenit, Rabu (23/11), resep permainan APOEL merupakan ketangguhan pertahanan. Statistik pergelutan itu menunjukkan, Zenit mencatat 63 persen penguasaan bungkus dan membuat 23 peluang gol. Bandingkan dengan peluang APOEL yang hanya sekali!
Sejak asal laga, mereka terlihat hanya ingin mengejar buatan imbang. Jovanovic menyusun para pemainnya bakal melindungi pertahanan tim. Hanya sekali mereka menyerang, dan tak akurat sasaran. Dengan daya permainan laksana itu, pertahanan mereka bobot ditembus. Dari pergelutan itu, anak adam mudah mudahan menuduh APOEL condong memainkan melampung bungkus negatif.
Namun, melihat keseluruhan penampilan mereka, Zonal Marking (laman yang mengupas taktik dan taktik beragam tim) bertambah memilih sebutan ”efisiensi”. Efisiensi di menyerang disebut sebagai lalai 1 resep APOEL di membuat bingkisan kejutan ini.
”Posisi APOEL di puncak klasemen merupakan hening bermula efisiensi mereka di menyerang,” tulis Zonal Marking senggat pergelutan putaran keempat Grup G. Rata-rata penguasaan bungkus mereka 43 persen, dengan berlimpah memainkan serangan balik.
Setiap laga, mereka hanya melakukan rata-rata 8 tendangan, jauh bertambah sececah dibandingkan rata-rata tendangan Porto (22 kali), Zenit (20 kali), dan Shakhtar (14 kali). ”Mereka tak berlimpah menyerang, melainkan menyerang dengan baik,” sebutan Zonal Marking.
Namun, yang tak rebah genting bermula taktik dan taktik di lapangan merupakan gerakan arwah para pemain APOEL. Striker Ailton mengatakan, ”Di balik permainan di lapangan, kadang-kadang ini bertambah berlimpah dampak dorongan dan dorongan itulah yang kami temukan di laga-laga ini.”
”Tentu kami merupakan grup mungil ketimbang raksasa-raksasa Eropa, melainkan kami memiliki hati besar,” papar Jovanovic, pelatih asal Serbia berusia 49 tahun itu. ”Kami memiliki pemain-pemain terpuji yang berusaha kuat di setiap pergelutan dan juga berambisi menorehkan sesuatu yang benar-benar penting. Saya inisiatif faktor-faktor itulah kunci berhasil kami di lapangan.”
Pelajaran bermula Siprus
Di heran disitribusi itu, Presiden Asosiasi Sepak Bola Siprus Costas Koutsokoumnis menyebutkan, perencanaan kala panjang dan mempertahankan pelatih di kala panjang iring andil di berhasil APOEL. ”APOEL membuktikan, berhasil dapat dicapai dengan anggaran tak besar,” sebutan Koutsokoumnis.
Berdiri tahun 1926 di sebuah balai balai kue di Nicosia dan detak ini berada di rangking ke-77 UEFA, APOEL hanya memiliki anggaran 13,5 juta dollar AS (Rp 122,6 miliar). Angka ini tak sama dengan anggaran klub-klub raksasa, laksana Barcelona, Real Madrid, AC Milan, Manchester United, Bayern Muenchen, Inter Milan, dan apalagi Manchester City yang andaikan dirupiahkan menghabiskan triliunan rupiah.
Pemain termahal APOEL merupakan pemain asal Brasil, Ailton, yang dibeli 1,35 juta dollar AS (Rp 12,2 miliar). Seiring dengan berhasil mereka di Liga Champions, brankas APOEL awal bertambah. Dari ajang itu, sejauh ini mereka telah meraup 16,18 juta dollar AS (Rp 147 miliar). Manajer pemasaran APOEL Phivos Papadopoulos mengungkapkan, detak ini pesanan buatan merchandise APOEL melalui internet berdatangan bermula mana-mana, laksana Brasil, Kanada, dan Ghana.
”Kami grup mungil bermula negeri kecil, melainkan kami melangkah disitribusi bikin tahap. Keberuntungan tak berasal begitu saja. Anda harus menciptakan keberuntungan Anda sendiri,” sebutan Erotokritou, Presiden Klub APOEL.
Sukses APOEL dapat sempurna pelajaran terbagi klub-klub maupun timnas Indonesia, negeri awan dengan penggila melampung bungkus heran biasa, melainkan tak beriktikad personel beradu di golongan daratan dan dunia.
Klub Siprus dapat beradu dengan tim-tim awan Eropa, dengan kerja keras, perencanaan matang, dan antusiasme tinggi. Jika perkumpulan bermula Siprus aja bisa, mengapa kita di Indonesia tidak?